Selasa, 01 Januari 2008

Investasi Informasi Teknologi (IT) Pada Bank BCA

Pendahuluan

Ketatnya persaingan bisnis dalam industri apapun menuntut sebuah perusahaan harus mempunyai perencanaan strategi yang matang untuk dapat memenangkan persaingan bisnis. Perencanaan strategi ini tentunya disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai oleh perusahaan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan perusahaan melalui strategi yang telah ditetapkan tentu tidak semudah yang dibayangkan.

Krisis ekonomi yang melanda bangsa indonesia pada tahun 1997 menyebabkan perekonomian Indonesia mengalami keterpurukan demikian halnya dengan industri perbankan, industri ini banyak mendapatkan masalah pada saat Indonesia mengalami krisis moneter baik masalah permodalan maupun masalah kredit macet. Kondisi ini membuat beberapa bank swasta nasional dilikuidasi oleh pemerintah sedangkan bank-bank yang selamat dari likuidasi ada yang memutuskan untuk melakukan merger agar dapat terjadi sinergi di antara bank-bank tersebut sehingga bisa tetap bertahan dalam industri perbankan nasional.

Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi persaingan bisnis di era pasar bebas mendatang, pada saat ini banyak industri perbankan nasional yang telah melakukan investasi di bidang teknologi informasi. Meskipun investasi di bidang teknologi informasi menghabiskan biaya yang cukup besar namun investasi dibidang ini tampaknya tidak lagi dianggap sebagai cost center bagi perusahaan hal ini dikarenakan investasi dalam bidang teknologi informasi ini menyebabkan transaksi perbankan mengalami peningkatan. Kondisi ini tentunya akan menambah pendapatan perusahaan yang pada akhirnya akan memperbesar profit perusahaan.

Profil Bank Central Asia (BCA)

Bank Central Asia (BCA) secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1975 di pusat perniagaan Jakarta dengan nama Bank Central Asia NV. Bank Central Asia merupakan perbankan swasta nasional yang merupakan Penanaman Modal Asing (PMA) dimana pemegang mayoritas dari saham BCA yaitu sebesar 51% adalah Farallón-Djarum Consortium. BCA terus berkembang, sehingga pada tahun 1977 BCA telah menyandang predikat sebagai Bank Devisa.

Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat, BCA Sebagai bank transaksional terus menerus memperluas ragam produknya dengan menawarkan rangkaian jasa yang sangat beragam untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik para nasabahnya. Adapun produk dan jasa dari BCA antara lain:

Jenis

Nama Produk dan Jasa

Simpanan

Kartu Kredit

Fasilitas Elektronik

Jasa-jasa Perbankan

Kredit

Fasilitas Ekspor-Impor

Jaminan Bank

Fasilitas mata uang asing

Rekening Tahapan, Rekening Tapres, Rekening Giro, Deposito Berjangka, dan Sertifikat Deposito

BCA Card, BCA Master Card, BCA Visa, BCA JCB

ATM BCA, Debit BCA, Tunai BCA, KlikBCA Internet banking, m-BCA mobile banking, BCA Link, Call Center

Safe Deposit Box (SDB), pengiriman uang, travelers cheques, inkaso dan kliring, mata uang asing

KPR, KKB, Kredit Modal Kerja, Kredit Sindikasi, Kredit Ekspor, Trust receipt, Kredit Invetasi

LC, negosiasi, diskonto, documentary collections, bankers acceptance

Bid bond, payment bond, advance payment bond, performance bond, and Import Duty Exemption and Refund Center

Fasilitas mata uang asing

Sumber : www.klikbca.com

Permasalahan

Banyaknya kantor cabang dan beragamnya produk BCA tentu membutuhkan sistem pengelolaan dan pengawasan yang baik agar tidak terjadi penyimpangan dalam menjalankan bisnis. Banyaknya kantor cabang tersebut dapat mempersulit BCA untuk mengetahui kondisi perusahaan secara keseluruhan. Demikian halnya dengan masalah perkembangan produk yang ada dalam tiap kantor cabangnya. Padahal untuk bersaing dalam persaingan yang sangat ketat saat ini, perusahaan perlu mengetahui kondisi internal perusahaannya sehingga perusahaan dapat mengetahui posisi mereka dalam pasar yang pada akhirnya akan mempermudah perusahaan dalam pengambilan langkah selanjutnya . Salah satu cara yang diambil BCA untuk mengatasi masalah tersebut diatas adalah dengan melakukan investasi di bidang teknologi informasi dimana BCA memutuskan untuk menggunakan Enterprise Resource Planning (ERP) yang merupakan sebuah sistem yang dapat mengintegrasikan semua departemen dan kantor cabang yang dimiliki oleh perusahaan.

Investasi Informasi Teknologi

Bank Central Asia (BCA) nampaknya telah menyadari bahwa bank yang memiliki 795 kantor cabang, 7,9 juta rekening, dan sekitar 15000 karyawan tidak mungkin beroperasi tanpa adanya dukungan dari sistem teknologi informasi. BCA sangat meyakini bahwa investasi teknologi akan dapat membantu mereka dalam memperbaiki proses bisnis yang ada dalam perusahaan sehingga investasi di bidang teknologi informasi yang telah menghabiskan biaya yang sangat mahal bahkan bisa mencapai jutaan dollar tidak akan menjadi suatu masalah bagi perusahaan karena mereka yakin bahwa penggunaan teknologi informasi yang tepat akan dapat meningkatkan profit perusahaan di masa mendatang.

Investasi di bidang teknologi informasi yang sangat mempengaruhi proses bisnis BCA menjadi perusahaan yang lebih menguntungkan adalah investasi dalam Enterprise Resource Planning (ERP). Hal ini dikarenakan penggunaan sistem ERP dapat menurunkan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas perusahaan. Di samping menurunnya biaya operasional dan meningkatnya produktivitas perusahaan, investasi sistem yang terintegrasi ini juga memudahkan BCA dalam melihat kondisi internal perusahaan dan dalam melakukan pengendalian terhadap kantor-kantor cabang BCA yang telah tersebar di seluruh Indonesia bahkan BCA telah mempunyai perwakilan di luar negeri

Dengan terintegrasinya kantor-kantor cabang dan departemen-departemen yang ada membuat kontrol terhadap kantor cabang baik secara manajemen maupun operasional menjadi lebih mudah dengan adanya teknologi informasi. Hal ini dikarenakan sistem dari teknologi informasi tersebut telah dapat mengintegrasikan data-data dari seluruh kantor cabang yang dimiliki perusahaan. Dengan sistem yang terintegrasi perusahaan juga dapat melakukan pengendalian terhadap perusahaan apabila mendapatkan informasi yang melenceng dari yang telah ditentukan. Di samping itu terintegrasinya data-data dari kantor-kantor cabang dan departemen yang ada dalam perusahaan membuat perusahaan dapat mengetahui kondisi perusahaannya setiap saat, hal ini dikarenakan data-data yang ada dalam sistem ERP tersebut online dan selalu up to date sehingga dari data yang selalu diperbaharui tersebut perusahaan akan dapat mengetahui aktivitas dan perkembangan sehari-hari dari berbagai kantor cabang yang dimiliki perusahaan.

ERP telah mengintegrasikan data-data yang ada dalam perusahaan secara akurat dan tersimpan dari tahun ke tahun, kondisi ini menjadikan perusahaan mempunyai data history yang akan sangat bermanfaat dalam melakukan forecasting untuk mengetahui perkembangan perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini tentu dapat mempermudah perusahaan dalam menentukan perencanaan strategi. Jadi, investasi di bidang teknologi informasi ini diharapkan dapat mendukung bisnis perbankan dalam melakukan perencanaan strategi dan kontrol kepada kantor cabang mereka yang telah tersebar di seluruh Indonesia.

Bank Central Asia (BCA) telah menyadari bahwa pemanfaatan teknologi informasi pada industri perbankan dengan kantor cabang dan nasabah dalam jumlah yang cukup banyak menjadi suatu kebutuhan mutlak. BCA merupakan perbankan swasta nasional yang paling serius dibandingkan dengan bank-bank nasional lain dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi. Investasi di bidang teknologi informasi ini dimaksudkan agar terjadi keakurasian, kecepatan, mutu layanan, serta keamanan yang menjadi sisi paling penting yang harus secara cermat dikelola. BCA nampaknya sudah mulai menyadari bahwa teknologi akan dapat membantu mereka dalam memperbaiki proses bisnis yang ada dalam perusahaan sehingga investasi yang cukup besar di bidang teknologi informasi tidak akan menjadi suatu masalah bagi perusahaan karena mereka yakin bahwa penggunaan teknologi informasi yang tepat akan dapat meningkatkan profit perusahaan di masa mendatang.

Untuk melakukan investasi awal di dibidang teknologi informasi, Bank Central Asia (BCA) harus mengeluarkan biaya investasi dalam jumlah yang cukup besar bahkan sampai jutaan dollar. Pada saat ini dimana sistem teknologi informasi telah bekerja sesuai prosedur, Bank Central Asia (BCA) setiap tahunnya harus mengeluarkan biaya sebesar US$ 40-50 juta dimana dana yang sangat besar tersebut digunakan untuk belanja TI (modem, computer, writer, PC, dsb) sebesar US$ 20-25 juta, angka ini belum terhitung untuk belanja mesin ATM, biaya telekomunikasi, membayar hak pakai software dan maintenance fee yang tiap tahun menghabiskan US$ 15-20 juta (Sudarmadi/Abraham Susanto, Majalah Swasembada No 24 tahun 2004). Investasi BCA dalam bidang teknologi informasi sangat dipengaruhi perkembangan nilai tukar rupiah dalam dollar, hal ini dikarenakan vendor dari sistem yang digunakan BCA merupakan vendor asing sehingga dalam penetapan pembayaran hak pakai atas software dan maintenance fee harus menggunakan kurs dollar sehingga apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah maka BCA harus membayar biaya hak pakai atas software dan maintenance fee dalam jumlah yang relative lebih besar dibandingkan apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar relative stabil.

Biaya yang dikeluarkan BCA untuk melakukan investasi di bidang teknologi informasi tidak hanya tersebut di atas, tetapi BCA harus mempersiapkan para end user yang nantinya akan menggunakan sistem teknologi tersebut. Persiapan end user tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit hal ini dikarenakan perusahaan harus melakukan pelatihan yang konsisten yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Tidak hanya itu perusahaan juga harus mengeluarkan dana untuk menggaji karyawan dalam melakukan monitoring hasil dari pelatihan yang telah diberikan perusahaan terhadap para karyawannya.

Keputusan perusahaan untuk melakukan investasi dibidang teknologi informasi tampaknya telah disadari oleh manajemen BCA untuk dapat bersaing dalam industri perbankan lainnya. Hal ini dikarenakan dalam persaingan yang sangat ketat ini perusahaan harus mempunyai competitive advantage yang dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan tersebut. Di samping itu jumlah kantor cabang dan nasabah yang terus mengalami peningkatan akan mempersulit BCA dalam melakukan kontrol terhadap kelangsungan bisnisnya apabila tidak menggunakan teknologi.

Bank Central Asia (BCA) telah sukses dalam implementasikan ERP yang merupakan suatu sistem yang terintegrasi. Sebagai dampak dari kesuksesan implementasi ERP tersebut BCA telah mendapatkan banyak keuntungan yang dapat memberi nilai tambah bagi perusahaan.

Sebagai indikasi dari banyaknya keuntungan yang didapat dari investasi di bidang teknologi informasi adalah semua transaksi yang dulu dilayani oleh teller sekarang bisa melalui fasilitas elektronik. Secara kuantitatif jumlah pelanggan produk berbasis teknologi informasi di BCA mengalami peningkatan hal ini dikarenakan pada saat ini perkembangan internet di masyarakat terus mengalami peningkatan sehingga fasilitas teknologi informasi yang disediakan BCA untuk para nasabahnya melalui pemberian layanan internet banking tampaknya membuat konsumen merasa nyaman dalam melakukan transaksi. Demikian halnya dengan produk mobile banking BCA, pelanggan dari produk ini terus mengalami peningkatan seiring perkembangan industri hand phone di Indonesia.

Investasi di bidang teknologi informasi ini juga dapat meningkatkan produktivitas perusahan dimana pada tahun 1999 jumlah pegawai BCA sebanyak 23 ribu orang, sementara pada saat ini pegawai BCA hanya sebanyak 21 ribu orang padahal jumlah transaksi yang ada di BCA mengalami peningkatan sebesar tiga kali lipat dari transaksi-transaksi sebelumnya dimana pada saat ini Bank Central Asia (BCA) melayani transksi sebanyak 3,5 juta transaksi per hari (Sudarmadi/Abraham Susanto, Majalah Swasembada No 24 tahun 2004).

Penerapan teknologi informasi yang tepat tentu akan memberi nilai tambah bagi perusahaan demikian halnya dengan Bank Central Asia (BCA). Penerapan sistem ERP telah berhasil mengintegrasikan semua kantor cabang dan semua departemen yang ada dalam perusahaan. Kondisi ini menyebabkan perusahaan akan dapat mengetahui secara akurat dan tepat mengenai proses yang sedang terjadi dalam perusahaan dan perlu waktu berapa lama lagi apabila proses tersebut belum selesai. Kondisi ini menjadikan proses yang ada dalam perusahaan menjadi lebih transparan sehingga perusahaan dapat memelihara tingkat kualitas pelayanan yang diberikan kepada para pelanggannya dengan jelas. Dengan pengintegrasian data menjadikan data-data dari kantor cabang dan departemen-departemen yang ada menjadi lebih transparan yang nantinya akan mempermudah perusahaan untuk mengetahui kondisi internal perusahaan secara keseluruhan yang selanjutnya akan mempermudah perusahaan dalam melakukan pengendalian apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terlebih pada saat ini kondisi perekonomian Indonesia masih belum stabil. Di samping mempermudah perusahaan dalam melakukan pengendalian, investasi di bidang teknologi informasi ini juga dapat memberikan kemudahan kepada perusahaan dalam melakukan forecasting karena adanya data history dalam sistem tersebut dengan demikian perusahaan akan dapat mengetahui kecenderungan produk di pasaran nantinya sehingga mereka dapat menentukan perencanaan strategi terhadap target produk mereka di pasar.

Benefit-benefit yang didapatkan perusahaan dengan mengimplementasikan teknologi informasi pada umumnya merupakan benefit yang tidak dapat diukur dengan uang tetapi langsung dapat mendukung kinerja perusahaan. Oleh karena banyaknya benefit yang diperoleh perusahaan baik yang dapat diukur maupun yang tidak dapat diukur dengan uang yang secara langsung dapat mendukung kinerja perusahaan menjadikan BCA tidak menganggap investasi di bidang teknologi informasi ini sebagai cost center dalam perusahaan tetapi lebih menganggap investasi teknologi informasi tersebut sebagai strategic patner perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Implementasi di bidang teknologi informasi ini juga menjadikan proses yang ada dalam perusahaan menjadi lebih terkontrol.

Kesuksesan Bank Central Asia (BCA) dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi dimana dapat terlihat dari nilai aset dan jumlah pelanggannya yang terus mengalami peningkatan. Kondisi ini menjadikan bank-bank nasional baik swasta maupun milik pemerintah yang tadinya ragu-ragu untuk melakukan investasi di bidang teknologi informasi menjadi tertarik untuk melakukan investasi padahal kesuksesan implementasi di bidang teknologi informasi dalam sistem yang sama di satu perusahaan belum tentu akan mendapatkan kesuksesan yang sama meskipun kedua perusahaan tersebut bergerak dalam industri yang sama.

Kebutuhan yang berbeda yang ada dalam setiap perusahaan itulah yang menjadikan kesuksesan investasi teknologi informasi yang sukses di satu perusahaan belum tentu sukses di perusahaan yang sejenis, hal ini dikarenakan dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi tidak terletak pada ”what” melainkan lebih menekankan kepada ”how” Jadi sistem teknologi informasi yang bisa berjalan di BCA belum tentu bisa berjalan di bank-bank lain. Hal ini dikarenakan setiap perusahaan harus punya knowledge sendiri dan harus disesuaikan dengan keadaan perusahaan itu sendiri (Sudarmadi/Abraham Susanto, Majalah Swasembada No 24 tahun 2004).

Manfaat Investasi Teknologi Informasi

Adapun keuntungan yang didapatkan perusahaan dengan melakukan investasi di bidang teknologi informasi tersebut antara lain:

¨ Kemudahan melakukan kontrol perusahaan

Implementasi teknologi informasi seperti ERP yang telah dilakukan oleh BCA menjadikan sistem yang ada dalam perusahaan tersebut menjadi terintegrasi. Kondisi ini tentu akan mempermudah perusahaan untuk mengetahui perkembangan bisnisnya setiap saat karena data yang ada dalam sistem tersebut adalah data yang online dan up to date dengan demikian perusahaan akan dapat mengetahui aktivitas sehari-hari dari tiap departemen dan kantor cabangnya. Kondisi ini tentu akan mempermudah perusahaan dalam melakukan kontrol untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses bisnis, dan apabila kesalahan telah terjadi perusahaan dapat langsung mengetahui sehingga perusahaan dapat meminimalisasi kerugiannya.

¨ Produktivitas Meningkat

Pengimplementasian Enterprise Resource Planning (ERP) pada BCA menyebabkan kinerja perusahaan menjadi lebih meningkat. Hal ini dikarenakan penguunaan teknologi tersebut dapat menciptakan kecepatan dalam bekerja dan juga memberikan tingkat akurasian yang cukup tinggi hal ini tentu akan dapat meningkatkan peroduktivitas perusahaan karena dengan tingkat kecepatan bekerja yang tinggi perusahaan akan memperoleh output yang lebih banyak dalam hal ini perusahaan dengan sumber daya yang tetap akan dapat melayani nasabahnya dalam jumlah yang lebih besar bahkan dengan digunakannya teknologi ini perusahaan dapat mengurangi sumber dayanya tetapi output atau banyaknya nasabah yang dilayani mengalami peningkatan.

¨ Kemudahan dalam melakukan perencanaan strategi

Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan sistem yang terintegrasi sehingga semua data yang ada dalam setiap departemen dan kantor cabang perusahaan dapat terintegrasi, kondisi ini tentu akan mempermudah perusahaan untuk mengetahui kondisi perusahaan secara detail sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih lengkap. Informasi yang lengkap tersebut akan dapat membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan bisnisnya di masa yang akan datang yang pada akhirnya informasi tersebut juga akan membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan strateginya.

Kesimpulan

Investasi di bidang teknologi informasi sangat diperlukan secara mutlak bagi perusahaan atau industry manapun meskipun dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi ini perusahaan harus mengeluarkan dana yang cukup. Hal ini dikarenakan investasi tersebut telah banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kinerja perusahaan untuk jangka panjang dalam menghadapi persaingan global.

Sabtu, 03 November 2007

Prediksi Liga Inggris,Spanyol,Italia

03/11-20:45
Arsenal v Man Utd
0 : 0
Arsenal
2.50 3.10 3.00
03/11-23:00
Aston Villa v Derby
0 : 1-1/4
derby
1.40 4.33 9.00
03/11-23:00
Everton v Birmingham
0 : 3/4
Everton
1.66 3.50 5.75
03/11-23:00
Fulham v Reading
0 : 1/4
Reading
2.37 3.25 3.00
03/11-23:00
Middlesbrough v Tottenham
1/4 : 0
Middlesbrough
3.00 3.25 2.40
03/11-23:00
Newcastle v Portsmouth
0 : 1/4
Newcastle
2.10 3.20 3.75
03/11-23:00
Wigan v Chelsea
1 : 0
Wigan
9.00 4.33 1.40
04/11-01:15
Blackburn v Liverpool
0 :0
Blackburn
2.87 3.25 2.50
05/11-00:00
West Ham v Bolton
0 : 1/2
West Ham
2.00 3.30 4.00
06/11-04:00
Man City v Sunderland
0 : 3/4
Man City
1.61 3.75 6.00



04/11-03:00
Mallorca v Valencia
0 : 0
Mallorca
2.60 3.25 2.70
04/11-05:00
Sevilla v Real Madrid
0 : 0
Real Madrid
2.70 3.25 2.62
05/11-00:00
Atletico Madrid v Villarreal
0 : 1/2
Atl Madrid
2.05 3.30 3.60
05/11-00:00
Levante v Almeria
0 : 0
Levanta
2.62 3.25 2.62
05/11-00:00
Murcia v Deportivo
0 : 1/4
Murcia
2.25 3.20 3.25
05/11-00:00
Osasuna v Getafe
0 : 1/4
Osasuna
1.95 3.30 4.00
05/11-00:00
Racing v Espanyol
0 : 0
Racing
2.40 3.25 2.90
05/11-00:00
Real Zaragoza v Valladolid
0 : 3/4
Real Zaragoza
1.57 3.60 6.50
05/11-02:00
Barcelona v Real Betis
0 : 1-3/4
Barcelona
1.20 6.00 15.00
05/11-04:00
Athletic Bilbao v Huelva
0 : 1/2
Huelva
2.00 3.30 3.80



04/11-01:00
Lazio v Fiorentina
0 : 0
Lazio
2.80 3.00 2.70
04/11-03:30
AC Milan v Torino
0 : 1-1/4
Milan
1.30 4.75 12.00
04/11-22:00
Cagliari v Sampdoria
0 : 1/4
Sampdoria
2.35 3.00 3.25
04/11-22:00
Catania v Atalanta
0 : 1/2
Atalanta
2.20 3.00 3.60
04/11-22:00
Empoli v Roma
1/2 : 0
Roma
6.00 3.30 1.66
04/11-22:00
Genoa v Palermo
0 : 1/4
Genoa
2.35 3.00 3.25
04/11-22:00
Livorno v Udinese
0 : 0
Udinese
3.00 3.00 2.50
04/11-22:00
Napoli v Reggina
0 : 3/4
Reginna
1.61 3.40 6.50
04/11-22:00
Parma v Siena
0 : 1/2
Parma
1.90 3.20 4.33
05/11-03:30
Juventus v Inter Milan
0 : 0
Juventus
2.80 3.00 2.70

MONETARY & FISCAL POLICIES

Monetary and fiscal policies are a part of the government program in running a nation in the economic development program. The aspects and contents of the monetary and fiscal policies will be explained separately. The role of monetary policy is to set a foundation for the monetary system, determining the interest rate, credit, and money, and a guideline for economic activity. The aim of the monetary policy can be viewed from two perspectives. First is the internal balance. The aim of the internal balance is to create a high job opportunity for labors within a nation. Also, the aim of the internal balance is for the government program to accomplish a high economic growth within a nation and maintaining low inflation rate. Second is the external balance. The aim of the external balance is to maintain the payment balance (Balance of Payment). The aim of the monetary policy is to handle and manage demand and fulfill monetary target which are targeting the amount of money out or spread. One of the actions of monetary policy is to decrease the amount of primary money, increase reserve requirement, and increasing the interest rate. One of the monetary policy instruments that the government uses are market operation, reserve requirement, credit selection, and moral suasion. However the success of the monetary policies conduct are based on the affectivity of the availability of crashed goals, society monetary rate, time lag, financial institution intervention, society expectation, and factors that influence target variable.
Before the deregulation, the environment is in low level of monetization (ration of money supply to GNP), inadequacy of banking network, undeveloped banking technology, and undeveloped capital market. The constraint can result in a less effectiveness of monetary policy such as the inadequate of financial institution system, financial sector dominated by banks, and assets in monetary sector dominated by state banks. The monetary policy in Indonesia can be analyzed from two perspectives which are the old regime and the new regime. In the old regime period the monetary policy was direct, monetary authority are tightly controlled by monetary sector, bank were extended hand from the state, and the state budget deficit was financed by loan from Bank Indonesia. While the new order period consists of money circulation was controllable, investments encouraging, banking operations were based on laws, and the inflation rate was under control.
During the Indonesia crisis in 1997/1998 the Indonesian exchange rate collapsed from Rp 2500/US$ until Rp 15000/US$. The economic contraction was 7.8% in 1996/1997 until 13.2% in 1998. What makes it worse the $ 22 billion reversal of private capital flows from inflows of $ 10 billion (1996/1997) to outflows of $ 12 billion (1997/1998) is nearly as large s total net capital flows in the entire decade to 1985 until 1995. The price of Indonesia’s key export, oil, has fallen to $ 13 a barrel, its lowest level in real terms in 30 years and the domination of enormous political changes. Before the crisis occurrence, IBRA was established in January 1998. Its task was to restructure banks under financial difficulties. It recapitalized Rp 430 trillion. It closed banks that were unable to fulfill the recapitalization standard and merge banks as alternatives in saved most banks. By the year of 2000 there were modest signs of a banking recovery. For instance the NPL have dropped to average 18%. CAR improved to positive of more than 4 and some banks have returned to profitability.
Fiscal policy is defined as government’s policy regarding the level of spending and revenue (taxation). Fiscal policy is also described as the behavior of governments in raising the revenue to fund current spending and the transfer of payments to citizens for which the government is responsible. The revenue can be supported by the raise in taxation or borrowing money from the World Bank. The fiscal policy itself affects the macroeconomic variables such as employment, price level, and the level of GDP. There are fundamental differences between the fiscal policy in pre/post 1966 eras in Indonesia; first the government has ceased to conduct major and direct contributor to inflation, in the new regime the government adopted balance budget principle, and the size of the government have risen sharply and the increase have been essentially revenue driven.
As mentioned earlier about the balance budget, there are rules that must be recognized. First the budget is balance only because the items financing the deficits (aid and external borrowing) are counted as revenue. Balance budget was introduced as a clever and effective political tactic to guard against a recurrence of the financial excess of the early 1960s. What is the impact of the balance budget? Indonesia has achieved normal inflation since the balance budget was implemented in 1967 and the impact was the inflation rate decreased from 639% in the year 1966 to 3.9% in 1971. Whereas the originality of revenue in Indonesia was derived from three aggregates which are oil and gas revenue non oil domestic revenue, and foreign aid. As it can be seen the key role of oil and foreign aid is very imminent. The change of oil price changes the revenue composition. It is the major source of domestic revenue. Especially during the oil boom period aid funded an increasingly small percentage of the development budget. In the 1980s Indonesia underwent tax reform in non oil domestic revenue. The large volume of aid and oil revenue had an adverse effect on NODR from the late 1960s until the mid 1980s. The share of NODR in total revenue halved over the 1968-1979 period (from 65% to 30%) and it fell further during the second oil boom to as low as 25.8% in 1981. The non oil tax revenue is set as a percentage of GDP below its potential. What is the use of tax reform? It certainly simplifies the income and company taxation rates. The investment incentives were largely abolished and since the year of 1990 the capital gains were taxed.
As the opposite of revenue, expenditure increased sharply in the year 1970s giving response to the oil and aid inflows. The rising proportion of funds spent on developing project over this period corresponded to the declining importance of aid as a source of expenditure development. Also during the year 1977 until the year 1981, debt rose sharply. During the Indonesian crisis in the year 1998, Indonesia needed a change in fiscal policy badly. Indonesia was overcome with huge debt, primarily due to the recapitalization of the banking system which cost about half of annual GDP (Rp 650 trillion). After the fiscal policy crisis the government was making hard effort to achieve fiscal sustainability. As a result of the crisis the debt accumulated, increasing fuel subsidy and the impact of decentralization lead to unsustainable budget. The increasing domestic debts mainly were from banking recapitalization and liquidity support.